Mengenai Saya

Foto saya
Singkawang, Kalimantan Barat, Indonesia

Minggu, 04 Desember 2011

KEARIFAN LOKAL DAYAK KANAYANT


Jenis Tradisi Lisan Dayak Kanayatn, terdiri dari 2 kelompok yaitu
1. Yang Bercorak Cerita al : tale, mitos,legenda, epik
2. Yang bercorak bukan cerita al : Ungkapan, nyanyian, puisi lisan, peraturan /upacara adat

1. Yang bercorak cerita :
1.1 Singara
ini adalah jenis cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita ini berupa cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang, cerita percintaan
1.2 Gesah
yang termasuk dalam kategori ini adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama lama rakyat akan suatu tempat, seseorang pahlawan, asal usul dunia Kanayatn, kehidupan, manusia dan kegiatan kegiatan hidup seperti bercocok tanam ( misalnya kepercayaan Ne' Baruankng dengan asal usul padinya) Tergambar pula disini tentang kehidupan fantastis dan magis antara dilangit(atas) dan dibumi, kehidupan jadi jadian manusia berasal dari jenis hewan besar di hutan belantara. Contoh lainnya : gesah idup seorang pejuang pada sama kemerdekaan, yang mengisahkkan perjalanan perjuangan tentang tempat dan orang Dayak yang berjasa karena keberanian dan loyallitas terhadap Republik.

1.3 Osolatn
Osalatn adalah kisah asal usul keturunan atau disebut juga jujuhatn yakni tentang silsilah keturunan suatu keluarga yang dapat dilacak lewat sebuah cerita. Contoh : Osolatan/jujuhatn Bukit Talaga. Penuturan biasanya dalam bentuk obrolan biasa atau dialog.

1.4 Batimang
Batimang adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak. Batimang ini dilakukan pada saat senggang atau waktu mau tidur dalam bentuk seperti pepatah, pantun atau lagu.

1.5 Pantutn
Cerita yang berbentuk puisi berisikan nasihat, peringatan, kasih sayang. Sama dengan pantun, pantutn terdiri dari empat baris bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris lagi isi. Sampirannya menarik karena kata-katanya berasal dari lingkungan kehidupan. Pantutn ini banyak dipraktekkan dalam kesenian/lagu untuk jonggan, berkomunikasi ditempat kerja : ladang, sawah, menoreh getah.

1.6 Sungkalatn/Sungkaatn
Cerita dalam bentuk perumpamaan ata pepatah, Perumpamaan atau pepatah dikaitankan dengan lingkungan sekitar tentang peringatan, penjelasan, atau nasihat. Kata-kata yang digunakan biasanya kata-kata formal, bahasa adat.

1.7 Salong
Cerita dalam bentuk sindiran atau ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik dimasyarakat. Salong ini berusaha memperbaikikekeliruan yang terjadi di masyarakat: sifat atau perilakudan perbuatan tak sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum.
Beberapa cerita seperti Batimang, Pantutn, sungkalatn dan salong ditemui juga dalam sebuah cerita lain yang panjang sebagai sisipan atau interval dan berfungsi sebagai penambah gaya atau liris, penegas , kekohesifan ide dsb. (Style and cohesion) antar babak karena biasanya jenis tersebut cukup pendek dalam penuturannya.


2. Yang Bercorak Bukan Cerita

2.1 Sampore'
Kegiatan seperti ini dilakukan dalam hal upacara perikehidupan seseorang yang berhubungan dengan rehabilitasi huungan yang pernag cacat/selsih, perobatan. Upacara Kanayatn untuk sampore' ini terdapat dalam kegiatan lenggang, liatn, dan dendo, babius ( karena badi, jukat dsb), bapipis dan batampukng tawar.

2.2 Lala'
lala' adalah semacam pantang atau larangan bagi masyarakat Kanayatn untuk makan jenis makanan tertentu, pantang melakukan pekerjaan tertentu, dan pantang mengucapkan sesuatu. Masa pantang ini diatur menurut tradisi masyarakat yang bersangkutan: tiga hari, tujuh hari, 44 hari, dan seumur hidup. Tujuannya adalah agar terhindar dari bahaya, atau kekuatan dapat ditingkatkan, atau niat dalam pekerjaan dapat terkabul.


2.3 Tanung
Tanung ini adalah tradisi lisan masyarakat Kanayatn untuk menentukan jenis perbuatan ( misalnya, menetapkan lahan ladang, memulai membangun rumah)atau mencari cara terbaik boleh tidak bertindak terhadap suatu situasi mendesak seperti keadaaan gawat, bencana, perang dsb. Upacara setelah batanung ini akan memberikan suatu keyakinan tentang jenis kegiatan yang daoat dilakukan kemudian. Bagian tanung adalah tanung ai', tanung tali, tanung karake' tanung serakng pinang dan tanung dapa' layakng.

2.4 Baremah
Baremah adalah upacara tradisi lisan yang dilakukan sebagai permohonan penutup atau ucapan syukur atas hasil pekerjaan, seperti masa pasca panen lewat kegiatan baroah, babalak, muakng rasi, bapipis, basinsangi(niat). Kegiatan ini lebih bersifat pribadi atau bagian upaca keluarga. Bandingkan dengan naik Dango yang bersifat menyeluruh: kampung, binua, antar binua ( Kabupaten)

2.5 Renyah
Renyah( Lagu/Nyanyian) sebenarnya adalah pantutn (pantun) yang dilagukan. Umumnya digemari oleh kaum muda dalam berkasih kasihan, saling sindir, atau orang tua menyampaikan pesan kepada anak. Lagu ini biasanya dituturkan pada saat ke ladang/sawah, dikebun karet, atau dihutan mencari buah, rotan dan sebagainya.

2.6 Bacece'
Berunding diantara para tokoh, sanak keluarga dan kerabat sekampung mengenai budi, hutang, dsb dari orang tua ( kepala keluarga, tokoh, adat/masyarakat) yang sudah meninggal. Perundingan yang dipimpim pemuka adatbiasanya menghasilkan kesepakatan mengenai kejelasan dan tindakan yang dapat diambil bilamana perlu. Tujuannya, orang yang meninggal tadi dapat lebih baik dan aman jiwanya di Subayatn ( Surga) dan keluarga yang ditinggalkan dapat lebih tenang dan rukun. Bacece adalah salah satu jenis tradisi dari sekian yang lainnya sepertibuat tangah, pangurukng sumangat dan baripakng

2.7 Pangka'
Upacara dari Pangka' adalah upacara adat untuk memperingati Ne' Baruakng sewaktu turun ke dunia menurukankan padi. Upacara ini biasanya dilakukan sebelum patahunan (masa bertani diladang) dimulai yaitu pada bulan Mei tiap tahun. Upacara yang dipimpim tokoh adat ini ( Timanggong, dst) dilakukan dalam bentuk sembahyang bersama di panyugu (tempat sembahyang) dan bermainpangka' gasing ( bermasin pangka gasing)

2.8 Mura'atn
Mura'atn adalah melakukan sesuatu ( biasanya doa) agar seseorang tidak ditimpa malapeta, Tradisi ini sifatnya pribadi, orang per orang.

2.9 Liatn
Upacara asli adat Kanayatn dalm bentuk magis dan sakral ( ditampilkan dalam bentuk tarian, doa, dan prosa berirama). Tujuannya tergantung keinginan dari keluarga yang memohon upacara ini ( pengobatan, membayar niat, dsb)
Liatn ini langsung dipimpim oleh seoramg dukun ahli liatn dan dibantu oleh satu orang ahli liatn yang disebut "panyampakng" serta beberapa"panyangahatn" pendoa.
Kategori penampilan dibagi dalam Liatn Daniang, Liatn Nyande, Liatn Bantal, dan Liatn Kanayatn. Perbedaan tiap kategoreidilihat pada nada dan irama serta kata-kata yang digunakan. Tiap kategori ini mempunyai tokoh sendiri sendiri, misalnya Liatn Danian dengan tokoh Ne' Sinede dan Ne' Lampede, Kategori menurut tujuan dibagi dalam Liatn Batama' Bohol, Liatn Ngaladakng Buntikng, Liatn Batalah, Liatn Batano', Liatn Ngalapasatn Tano', Liatn Barobat, Liatn Badigin, dan Liatn Ngangkat Paridup.Misalnya Liatn batama' Bohol tujuannya untuk mohon diberik anak ( bagi keluarga yang sulit memperoleh anak), Liatn Ngangkat Paridup untuk memperbaiki" Patahunan" yang gagal.
Kegiatan upacara dalam Liatn antara lain macik(nyagahatn/sembahyang didalam rumah) ngantar roba, ka' ayutn, baramutn ngamok jalu/babotn, ka' bawakng, bajampi, ka' Jubata masak, nyagahatn ngago, sumangat, notor ( Nyagahatn ka' tanah/diluar rumah memanggail dan memberi makan setan iblis jahat) ka' dang bonto' ngalinse, ngungke, ka' paramainan dan baripakng (mencari silsilah nama nama yang suci dan jubata)
Waktu pelaknsanaanya, ada yang sehari semalam, ada yang tiga hari tiga malam. Nilai seni tari dan lagu dalam liatn ini juga sangat menonjol yang diiringi alat alat musik : agunkng, dau dan tuma ( gong, gendang).

2.10 Mulo
Mulo adalah adat pengucilan (penjara) kepada seseorang yang melakukan kesalahan yang sangat berat bagi anggota masyarakat adat.

2.11 Gawe
Upacara pesta ucapan syukur atau menandai awal suatu kehidupan baru, seperti gawe pesta panen, gawe balak, (awal masa remaja), gawe penganten ( menempuh hidup baru berkeluarga)

2.12 Totokng
Upacara adat besar penerimaan dan pemeliharaan kepala manusia hasil ngayau (Jama ngayau tempo dulu) Upacara ini sekarang sebagai peringatan seperti gawe yang biasanya berlangsung selama 7 hari 7 malam ditambah 1 hari/malam terus menerus. Upacara ini dipimpin oleh seorang pandai adat Totokng disebut Imam Totokng. Ini adalah upacara lengkap yang menyangkut kehidupan dan hubungannya dengan lingkungan. Sehingga upacara nyangahatn/sembahyang dilakukan setiap segi dan tempat kegiatan masyarakat Dayak Kanayatn: dipanyugu, panamukng ( Bukit, Hutan rimba) pasinyangan ( tempat keramat asal usul nenek moyang beserta sejarahnya) disungai (tempat mandi, dsb) dikaki tangga rumah, diatas pante (teras terbuka rumah panjang) dan didalam rumah, Semuanya harus dipenuhi / lengkap, sebab kalau tidak akan kena jukat (sakit atau bencana)
Sekarang upacara ini sudah jarang dilakukan karean selain biayanya besar, juga upacaranya harus sesuai dari asal usul keluarga pengayau dan dari keturunan cerdik pandai adat, disamping khawatir akan salah dan kena jukat tadi. Jenis Totokng dusesuaikan dengan tujuan totokng ini diadakan: pembuatan dan penamanan pantak/topeng untuk menemukan asal usul suatu keturunan misalnya. Ada tiga tokoh Dayak dulu yang merupakan pembawa Totkng; Bunsu', Maniamas dan Ure' Nyabukng.

2.13 Nyagahatn
Bagian upacara dalam bentuk doa atau sembahyang dalam adat/agama lama. Upacara ini banyak digunakan dalam peristiwa adat seperti Liatn, lala', remah, gawe, sampore' dan mato'. Juga dilakukan sewaktu akan bercerita tentang kisah atau sejarah kejadian, asal usul. Tujuannya untuk mengucapkan syukur, memohon bimbingan dan perlindungan atau pemberitahuan kepada Jubata, Ne' Patampa' Ne Daniang terhadap suatu kegiatan dalam bekerja. Nyagahatn atau biasanya disebut juga ngalantekatn dilengkapi dengan persembahan disebut palantar. Upacara ini dipimpin oleh seorang Imam Panyangahatnatau seorang tokoh adat.



2.14 Dendo dan Lenggang
Bentuk upacara ini sebenarnya bukan asli Kanayatn. Upacara ini dilakukan dalam kegiatan pengobatan atau membayar niat. Kegiatan mirip dengan Liatn, tapi dengan Variasi dari luar ( Melayu dan Tionghoa)

2.15 Adat Kanayatn
Adat adalah satu istilah yang selalu erat kaitannya dengan setiap tradisi lisan.Dalam jenis tradisilisan diatas, diterapkan adat. Bahwa adat meliputi seluruh aspek perikehidupan manusia adat dengan lingkungannya (tempat tinggal, pekerjaan, milik, hubungan sesama, makanan, pakaian, dan alam sekitar)
Interaksi ini berlamngsung dengan seimbang di lingkungannya dan secara turun temurun hingga sekarang.
Adat Kanayatn tersebut mesti dilihat menurut maksud dan tujuannnya, disamping latar belakang kehidupan masyarakatnya yang menghasilkan aturan adat dan tata cara pelaksanaan adat, serta sanksi adat. Sehingga ada adat yang memberi petunjuk tentang yang baik dan boleh dilakukan; ada isyarat tentang bahaya, larangan, tidak baik/boleh dilakukan.
Adat dilakukan terikat kepada bermacam aturan dan persyaratan, seperti dalam masa waktu,iman kepercayaan/keyakinan, peralatan dan perlengkapan dalam bentuk hari/bulan tertentu, doa, makanan, pakian, sebagai prasyarat mutlak disediakan/diadakan untuk berlangsungnya upacara atau kegiatan adat.
Untuk Dayak Kanayatn, "nyagahatn" (doa) mutlak untuk setiap upacara adat disertai perangkat pelengkapnya, seperti beras, sirih, rokok, jarum, telur ayam atau babi.
Dari upacara data tercakup aspek kehidupan dan hubungannya dengan alam lingkungan tadi dalam hal :

2.15.1. Adat Patahunan
Tata cara membuka, memulai, mengerjakan,mengambil, mengucapkan syukur atas pekerjaan bertani, teruatama di Ladang. Sehingga ada adat pada pengehetahuan dan teknologi bertani, yang disebut :
"patahunan", yakni upacara adat yang mengikuti lingkaran masa setahun ( Mei - April) bekerja di Ladang.
Jadi ada upacara ka' Panyugu ( upacara permohonan ditempat sembahyang sebelum pekerjaan dimulai,
balala' ( berpantang dan berpuasa),
Baburukng (Upacara pada senja/malam hari dilokasi calon lahan ladang untuk mendengarkan rasi baik/buruk: suara burung),
ngawah (upacara melihat pertanian),
nunua' ( upacara memohon membakar ladang supaya hangus dan tidak merembet ke hutan atau lahan lain yang bukan ladang)
balabuh/ngalabuhatn pabanihan ( upacara mohon berkat benih),
mare'atn rawatatn payuh (Upacara memberi makan roh jahat yang dapat menggangu benih dan padi yang akan tumbuh),
ka' lubakng tuga ( upacara berkat bagi lubang benih, lubang tugal),
ngiliratn panyakit padi ( upacara mengusir hama dan penyakit padi),
ngaladakng buntikng padi ( upacara berkat batang padi yang sedang bunting/mulai berbunga),
nuruti ( upacara sewaktu menuai padi ala kadarnya pertama kali untuk memohon dan permisi pada Sang Yang Kuasa) dan baroah, naik dango (upacara menaikkan padi kerumah dan ucapan syukur datangan padi sebagai hasil pekerjaan selama setahun )

2.15.2 Adat Paridup
Tatacara kehidupan, yakni usaha untuk kehidupan yang lebih baik, rukun dan bahagia. Sehingga terdapat adat balaki-babini, adat sapat dinikng, adat bagago'atn, ngaladankng buntikng, adat batalah, adat babalak.

2.15.3 Adat Karusakatn/Kaseraatn/Kamatiatn
Tata cara kehidupan hubungan dengan kematian (kepercayaan adat untuk mencoba menjaga hubungan baik antara yang sudah meninggal dan yang masih hidup). Terdapat adat buat tangah, murutatn batakng, pangalulut, pangurukng sumangat, bacece', pamidara baripakng

2.15.4 Adat Kasalahatn
Tatacara adat untuk hukuman, sanksi karena kesalahan yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok orang dalam masyarakat adat yang bersangkutan. Terdapat misalnya, adat bata api, adat balaki-babini sakamarkapala, dsb. Hukuman atau sanksi dikenakan dalam bentuk barang (piring, parang, gong) dan hewan, teruatama ayam dan bai. Tapi sekarang sudah mulai sedikit berubah dengan menggunakan uang pengganti barang barang. ini disebabkan sulitnya memperoleh barang tersebut.


2.15.4 Adat Petunjuk, Teguran, Larangan atau Pantangan
Beberapa bentuk perbuatan yang berhubungan dengan kepercayaan tentang perbuatan baik dan jelek, perbuatan tentang boleh dan tidak boleh. Contoh, adat kepercayaan tentang rasi ( kejadian atau peristiwa yang berasal dari bunyi atau suara alam, seperti burung tertentu, binatang tertentu, bunyi pohon, angin yang dapat mendatangkan keberuntungan atau malapetaka kalau dituruti/dipercayai) Misalnya, rasi dari suara burung: keto, buria' papo, kohor, jantek, tarogang, putih gigi, kutuk, bilang, mago', dunutn, sear, kangkukng; bangkai/mayat manusia atau binatang; pangalatn : bunyi ranting atau kayu tumbang; buragah adatn; suara belalang; leo, nenet, pansisik. Bunyi atau suara ini memilki kekhasan tersendiri dan membedakannya antara yang menguntung dan yang merugikan bagi kehidupan, pekerjaan dan sebagainya. Dalam bentuk pantangan tidak boleh melakukan sesuatu, ada kepercayaan yang disebut amali', berarti jangan dilakukan karena larangan adat kebiasaan , dan kalau dilakukan akan berakibat tidak baik atau bencana. Misalnya amali' membakar atau memasak makanan tertentu dihutan atau dirumah; amali' bersiul pada malam hari, dsb.
Disamping rasi, kepercayaan lisan yang dianut masyarakat Kanayatn adalahsungkak, sumpanan, dan badi. Ini adalah bentuk kepercayaan lisan yang merupakan tanda/akibat bersalah karena melanggar aturan suatu kebiasaan.
Kalau seseorang mau pergi ke hutan, misalnya dan tidak minum kopi, makan atau merokok terlebih dahulu, padahal dalam hatinya ada keinginan untuk makan/minum tersebut. Orang bersangkutan dipercaya akan kena bencana (sakit/luka karena jatuh, diserang binatang berbisa, dsb) Ini yang dianamkan sumpanan.
Bentuk lain yang berhubungan dengan adat ini adalah jukat. Jukat merupakan suatu kesalahan besar dalm bersikap dan bertindak yang melawan adat yang sudah digariskan dan seharusnya dilakukan. Kesalahan ini sudah tentu dalam bentuk kerugian; sakit, cacat, dsb. Jukat ini dipercayai harus disembuhakan dengan upacara adat tertentu, seperti baliatn, misalnya.

EKSISTENSI RUMAH PANJANG SAHAM DALAM DUNIA PARIWISATA


Pendahuluan
Kalimantan, atau dahulu borneo dalam peta dunia hanya menyerupai titik kecil dalam ribuan pulau dan semenanjung yang tersebar diantara Asia Timur dan Australia. Kalimantan adalah pulau ketiga terbesar didunia setelah Greenland dan Irian (Papua). Luasnya hampir 750.000 km, jarak rentangnya lebih dari 1.300 km1
. Kalimantan adalah bagian integral Republik Indonesia, dan merupakan elemen dari keanekaragaman yang menjadi image Indonesia sebagai negara besar, multi bangsa dan budaya. Saat ini dalam kepulauan Kalimantan sendiri terdapat pula Sarawak dan Sabah sebagai bagian negara Malaysia, serta Kesultanan Brunei Darussalam. Dalam pulau Kalimantan juga terdapat empat propinsi di Indonesia yaitu Kalimantan Barat dengan ibukota Pontianak, Kalimantan Tengah dengan ibukota Palangka Raya, Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda, dan Kalimantan Selatan dengan ibukota Banjarmasin.
Kalimantan Barat terdiri dari 12 Kabupaten dan 2 Kabupaten kota. Pontianak terletak di 2° - 3° Lintang Selatan dan 108° - 114° Bujur Timur serta memiliki luas 146.807 km² ( 7,65% luas Indonesia ).
Sebagai bagian integral dari Republik Indonesia, setiap daerah memiliki kekhasan dalam adat dan budaya. Demikian pula Kalimantan yang dipercaya sebagai tanah air suku Dayak sebagai penduduku asli, selain Melayu dan Cina yang juga memeliki sejarah panjang di daerah ini. Suku Dayak adalah penguasa Kalimantan, dan merupakan kelompok etnik yang memilki ke-khasan adat dan istiadat serta benda-benda seni hasil kerajinan, yang berbeda dengan daerah lain.
Salah satu situs yang masih dapat kita temui hingga kini sebagai unsur kebesaran budaya itu adalah Rumah Panyakng atau Rumah Panjang. Rumah panjang adalah tempat tinggal masyarakat Dayak secara umum (ada kelompok yang tidak). Ia terdiri dari bangunan kayu sepanjang 200meter (relatif dan berbeda setiap sub suku), terdiri dari bilik dan ruang serta serambi dimana satu komunitas masyarakat (berasal dari satu keturunan), hidup dan berkembang. Dalam penulisan kali ini, akan dibahas satu Rumah Panjang yang terletak di desa Saham kecamatan Sengah Temila kabupaten Landak ( 137 km dari utara kota Pontianak serta ± 11 Km dari ibukota kecamatan).
Desa Saham terdiri dari satu rumah panjang dan rumah-rumah tunggal yang mengikuti pola masa kini. Sebelumnya seluruh penduduk tinggal disatu rumah panjang sebagai satu kelompok masyarakat. Bagi masyarakat Dayak, Rumah panjang bukan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal, namun juga sebagai pusat perkembangan budaya serta tradisi.
Sebagai peninggalan budaya Dayak Kanayatn, rumah panjang di Saham layak dijadikan objek pariwisata. Adapun faktor-faktor yang mendukung itu adalah kegiatan budaya, kesenian, adat istiadat, kehidupan religi, pertanian, mata pencaharian, kehidupan bermasyarakat. Sebagai pusat kebudayaan rumah panjang juga merupakan pusat lahirnya jenis-jenis kesenian yang berkaitan langsung dengan adat istiadat dalam bentuk upacara-upacara. Masyarakat Dayak selalu menandai setiap peristiwa dalam kehidupan dengan upacara, dalam kondisi inilah lahir tarian, musik, seni ukir, seni tato, seni menganyam, tenun, tata boga, dan sebagainya.
Sebagai contoh upacara mengawali dan mengakhiri proses perladangan. Sebelum musim tanam dimulai, dilakukan upacara untuk memberkati seluruh peralatan yang digunakan dalam pertanian, dengan upacara adat untuk mendapat restu dari roh leluhur serta Jubata ( Yang Maha Tinggi ). Seluruh rangkaian proses pertanian tersebut ditutup dengan upacara memanjatkan syukur ( Naik Dango ). Diupacara inilah biasanya masyarakat Dayak di rumah panjang Saham tampil dengan busana adat terbaik, perhiasan, tari, musi, makanan-makanan dan minuman khas tradisi Dayak. Seluruh rangkaian upacara tersebut masih dapat kita temui di rumah Panjang Saham.

Dampak Negatif
Dalam kehidupan masa kini masyarakat Dayak tidak terlepas dari pengaruh modernisasi serta penyeragaman dalam identitas baru, kebudayaan Indonesia. Masuknya media elektronik seperti televisi, parabola membawa siaran yang membuka wawasan mereka tentang kehidupan baru yang menawarkan perubahan-perubahan. Perubahan ini cenderung lebih banyak bertentangan dengan adat istiadat serta norma dan keteguhan terhadap tradisi. Sebagai contoh kasus maraknya perjudian yang dibawa oleh pendatang sebagai usaha memeriahkan pesta adat. Dengan semakin luasnya wawasan masyarakat Dayak terutama dalam masalah ekonomi yang individualistik, banyak benda atau situs-situs bersejarah yang dijual demi kepentingan pribadi. Masuknya gaya hiburan baru yang diadaptasi dari media elektronik sehingga mengesampingkan pemahaman serta kecintaan generasi muda Dayak terhadap seni tradisi dan adat istiadat.
Pemerintah daerah sejauh ini memang telah melakukan pembinaan, namun yang terjadi adalah pembinaan yang tidak berakar dan agak melenceng dari konteks ritual adat. Apa yang telah dilakukan pemerintah melahirkan potensi perpecahan dan kedangkalan pemahaman terhadap tradisi, sebab pembinaan yang dilakukan sering terjadi dalam bentuk yang isidentil dan instan. Problem yang terjadi, tidak segera diimbangi dengan pendidikan yang layak, sehingga pengaruh budaya luar sangat cepat berdampak terhadap budaya Dayak. Ia tidak hanya mempengaruhi, namun juga merombak secara langsung akar budaya tersebut. Hal ini patut kita sayangkan dan kita sadari untuk kemudian menjadi perhatian pemerintah daerah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Dampak Positif
Keberadaan Pariwisata, yang menampilkan upacara adat dan kesenian tradisi di rumah panjang Saham memberi dampak positif bagi masyarakat Dayak serta kelangsungan tradisinya. Semakin berkembangnya dunia kepariwisataan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk terus menyelengarakan serta memelihara adat dan tradisinya sebagai komoditas pariwisata. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang datang, akan meningkatkan pendapatan ekonomis serta melahirkan kesadaran baru bahwa masyarakat memiliki nilai jual yang layak ditampilkan. Dengan demikian kesadaran itu memacu masyarakat untuk mempelajari, menggali, serta melestarikan tradisi yang mereka miliki.

Solusi yang dapat ditempuh
Sudah saatnya pemerintah daerah merubah paradigma dalam rangka memelihara dan membina kesenian tradisi demi kepentingan pariwisata. Pariwisata yang sehat adalah dimana seni dan tradisi yang ditampilkan tidak tercerabut dari akar budaya aslinya. Pola pendidikan yang telah ada semestinya disertai dengan muatan lokal yang akan melahirkan generasi muda yang memahami serta mengenal kesenian tradisi, sehingga seberapa kuatnya pengaruh budaya luar, mampu disaring dan disesuaikan dengan adat dan taradisi budaya Dayak.
Pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab untuk membaca potensi dan membuka peluang agar potensi itu menjadi komoditas yang menguntungkan bagi masyarakat. Hal ini dapat direalisasikan dengan dibangunnya sarana yang mendukung pariwisata disuatu daerah, dalam hal ini rumah panjang Saham. Akses jalan raya, penginapan, fasilitas telekomunikasi, promosi, harus menjadi perhatian untuk diperbaiki demi kemudahan dan kenyamanan wisatawan. Namun yang penting adalah kontinuitas pembinaan yang jujur dan berpihak kepada masyarakat sehingga diharapkan mereka mampu menjadi komoditas pariwisata, yang tidak hanya mementingkan keuntungan ekonomi semata, tetapidi harapkan memupuk kecintaan sekaligus kesadaran terhadap kelestarian adat istiadat dan tradisinya.
1 Bernard Sellato, Hornbill and Dragon (Jakarta: Gramedia, 1989), p. 51

Ritual Balian



Kearifan yang Tersisa dari Peradaban Silam

Belian niscaya merupakan anak kandung shamanisme, dunia mistis-religius yang bersentuhan dengan aura alam gaib. Namun dibalik kesan magis itu, terungkap jejak kearifan pengobatan tradisional yang bersumber dari pengalaman hidup turun temurun. Pada tahun 1887, berita mengenai dunia medium metafisika di Borneo mulai terungkap dalam khasanah literatur etnologi. Wilken dalam artikel bertajuk “Bijdragen tot de Taal, Land-en Volkenkunde van Nederlansch Indie”, membahas dunia medium metafisika orang Dayak yang kala itu disebut shamanisme.
Terminologi shaman bermula dari India. Bermakna mengenai dunia magis-religius. Dalam konteks itulah, Belian menjadi perbincangan sepanjang denyut peradaban. Bahkan Kontrolir Pamong Praja (Controleur bij het Binnenlandsch Bestuur) menulis mengenai “Kepercayaan Suku Dayak di Tanah Landak dan Tayan”, dengan sangat detail sebagai wujud kekaguman pada peradaban Dayak.
Sekalipun waktu berlari tunggang langgang dan ruang kian menghimpit gerak kehidupan manusia Dayak, namun shamanisme, termasuk Belian, sebagai peradaban purba, masih juga bergemerincing di tengah gempuran peradaban modern. Meski denyutnya kian melemah, namun riwayat shamanisme sepertinya tak lekang oleh tamparan ruang dan waktu.
Varian Selingkar Belian
Menurut keyakinan orang Dayak, manusia mempunyai dua jiwa (beruwa), yakni mata kiri dan mata kanan. Kedua beruwa tidak terikat pada tubuh, mereka dapat meninggalkan tubuh kapan mereka mau. Itulah ihwal seseorang menjadi sakit. Namun dengan bantuan roh-roh dari Apo Lagan, para Dayung atau Pemeliatn dapat mengembalikan jiwa yang mengembara kembali ke dalam tubuh, sehingga terjadi kesembuhan pada orang yang sakit.
Orang Dayak Bahau beranggapan, pengaruh buruk terhadap lingkungan alam disebabkan tindakan makhluk gaib. Mereka juga beranggapan, semua benda hidup dan benda mati mempunyai sifat-sifat seperti manusia. Maka mereka tidak mau memusnahkan benda dengan membakarnya. Semua benda yang pernah memainkan peran dalam hidup seseorang, disimpan dan setelah kematian, benda itu dimasukkan dalam karung dan tidak pernah diusik. Namun benda keramat itu tidak dimusnahkan.
Personifikasi orang Dayak Kayan tentang lingkungannya merupakan cer¬min kehidupan, yang bagi mereka merupakan bungkus jasmani yang dihuni dua jiwa: mata kanan dan mata kiri. Kalau salah satu meninggalkan tubuh, niscaya mereka mengalami perasaan merasa sakit, mimpi buruk atau mengalami peristiwa naas. Kalau ia tidak berhasil mengembalikan jiwanya, pembungkus jasmani akan meninggal.
Para Dayung sanggup mengembalikan beruwa. Namun mereka memerlukan bantuan roh-roh dari Apo Lagan. Bila Dayung berhasil mengembalikan dan me-nangkap beruwa, jiwa itu dibebaskan dan dihembuskan ke kepala. Setelah berhasil, diperlukan masa istirahat selama sehari untuk proses kesembuhan. Kecuali jika jiwanya berkelana kembali.
Pada waktu kematian, kedua beruwa meninggalkan jasad. Mata kanan mengadakan perjalanan ke dunia roh, Apo Kesio. Sedangkan mata kiri, tinggal di bumi dan mungkin saja pindah ke binatang seperti rusa, monyet, ular dan burung tingang, yang semua jenis binatang itu pantang dimakan orang Dayak Kayan. Setelah kematian, mata kanan mengadakan perjalanan ke Apo Kesio, harus menempuh perjalanan sulit dan berbahaya. Itulah sebabnya mayat orang Kayan senantiasa dilengkapi dengan segala sesuatu yang bermanfaat dalam perjalanan di dunia roh.
Pemikiran kosmologi Dayak niscaya menjadi landasan bagi pelaksanaan ritual Belian (ritual penyembuhan atau merawat orang hidup). Menurut orang Dayak Benuaq, Belian berasal dari kata Lietn yang berarti pantang atau tabu. Maka Belian dimengerti sebagai ikhtiar manusia untuk mencegah musibah yang menimpa manusia dan alam semesta.
Orang Dayak Benuaq membedakan ¬upacara yang berkaitan kehidupan dan kematian. Terminologi Belian hanya digunakan untuk ritual adat yang berkaitan dengan kehidupan. Sedangkan yang berkenaan dengan kematian, digunakan istilah Wara atau Sentangih.
Lazimnya dalam upacara Belian digunakan peralatan musik antara lain gong, gimar, kelentangan. Acapkali Pemeliatn mengucapkan mantra seraya menyanyi, pun kadang menghentakkan kaki di lantai kayu sehingga menimbulkan bunyi gemerincing dari giring-¬giring yang dikenakan di kakinya. Ruang upacara dan sekitar lokasi Belian dipenuhi hiasan dan sesaji yang sarat dengan makna simbolis. Upacara Belian dapat dilakukan oleh pria maupun perempuan. Bila pria disebut Pemeliatn Turaatn, sedangkan perempuan disebut Pemeliatn Bawe.
Bila seseorang jatuh sakit, orang Benuaq niscaya menyelidiki apa yang menyebabkan penyakit itu. Bila telah diketahui penyebabnya, diadakan Belian. Jenis upacara Belian amat tergantung pada ragam penyakit. Secara umum komunitas Dayak mengenal penyakit berdimensi jasmani dan rohani, yang selain diderita secara personal, dapat pula berakibat secara komunal.
Namun ada pula penyakit atau musibah yang disebabkan pelanggaran aturan adat. Di kalangan komunitas Benuaq, seseorang yang belum cukup usia, tidak boleh bicara tentang adat walau dia mengetahuinya. Seseorang yang bukan berasal dari golongan atau keturunan bangsawan (Mantiq Tatau), tidak boleh berbicara ihwal adat. Demikian pula halnya, yang bukan Pemeliatn atau Pengewara, tidak boleh berbicara adat Belian. Bila ketentuan ini dilanggar, mereka akan ditimpa kecelakaan fisik, seperti di patuk ular atau tertimpa pohon tumbang.
Semua penyakit menurut orang Dayak Benuaq, diyakini disebabkan oleh gangguan roh-roh gaib. Beberapa roh yang dikenal komunitas Benuaq antara lain roh pahlawan (Nayuq), roh penguasa air (Juwata), roh penguasa tanah (Tonoy), roh yang mengendalikan manusia (Kelelungan dan Liau). Kesemua roh tersebut pada hakekatnya dapat dimintai pertolongan bila diperlukan oleh manusia.
Tatkala pertama kali seseorang terkena penyakit, dalam tradisi Dayak Benuaq dilakukan Nyenteu yang bertujuan mendiagnosa penyebab dan jenis penyakit. Selanjutnya ikhtiar penyembuhan dapat dilakukan oleh Pemeliatn Turaatn (Belian Sentiyu). Namun juga dapat dilakukan oleh Pemeliatn Bawe dengan upacara Ngentas.
Di kalangan orang Dayak Benuaq dikenal ragam upacara belian, diantaranya adalah: Bawo; Beneq/Luwangan; Dusun; Jamu; Kedusan; Melas; Dewa; Nular; Kenyong/Kuyang; Pantun; Ranteu/Baraga Bagantar; Semur; Sentiyu; Serupai; Sipung/Simpul; Timek; Tuung Puntung; Gugu Tautn/Nalitn Tautn.
Sejatinya berdasarkan pendekatan fungsional, upacara ritual Belian dapat diketegorikan untuk tujuan preventif, pengobatan dan harmonisasi semesta, meski acapkali pada Belian tertentu memiliki percampuran fungsi. Belian sebagai upaya preventif mencakup Belian Bawo, Renteu, Beneq dan Timek.
Sedangkan Belian untuk pengobatan mencakup Belian Bawo, Dewa, Jamu, Kedusan, Melas, Pantun, Semur, Sentiyu, Serupai, Sipung/Simpul, Adapun yang berkaitan dengan harmonisasi semesta mencakup Belian Nalitn Tautn, Nukar, Dusun, Kenyong/Kuyang dan Tuung Puntung.
Selain yang berkaitan dengan kehidupan, di kalangan orang Dayak Benuaq dan Toyooi juga dikenal upacara kematian, mencakup Kenyau, Paramp Api dan Kewangkey.
Pertautan Medis dan Magis
Hakekat ilmu penyakit pada suku Dayak adalah pemahaman, bahwa roh pada tubuh manusia memiliki keterbatasan. Namun roh itu dimaknai dalam arti luas, meliputi segala unsur yang berada dalam diri manusia, yaitu jiwa dan zat hidup, pengertian itu tak dapat dipisah-pisahkan. Tiada medium yang dapat menampung roh dalam dirinya sebelum sukma menying¬kir dari badan. Menurut orang Dayak, sukma sejatinya sehakekat dengan roh, yakni zat kebatinan personal.
Dalam ritual upacara Belian, roh yang masuk melalui medium Pemeliatn akan berperan sesudah ia berhasil mendesak ke luar rohnya sendiri. Kemudian sukma keluar meninggalkan tubuh medium, mengembara ke tempat "persemayaman" para roh, seraya berusaha mengetahui bagaimana caranya menyembuhkan si sakit yang menjadi pasiennya.
Sesungguhnya hanya ada satu roh dalam satu tubuh. Penyebab penyakit, ialah roh jahat yang berhasil merampas dan menguasai tubuh si sakit. Maka menurut mereka, penyebab penyakit adalah, Pertama, tidak hadirnya roh, karena telah meninggalkan tubuh untuk sementara. Kedua, kemasukan roh jahat, atau karena adanya benda-benda yang gaib dalam tubuh.
Dalam keyakinan mereka, sukma, roh atau jiwa dimanifestasikan dalam bentuk binatang atau benda. Dalam keadaan mimpi atau badan sakit, jiwa itu meninggalkan tubuh dalam bentuk ular, jangkerik atau cemara rambut (Wilken, 1884). Maka perawatan dalam upacara Belian dimaknai sebagai upaya mengembalikan sukma ke dalam tubuh; mengusir roh jahat atau menghilangkan benda maupun hewan pe-nyebab penyakit.
Peran terpenting dalam tata cara pengobatan Belian adalah pembacaan mantra pengusiran roh jahat dengan bantuan Pemeliatn. Jiwa pasien yang telah mengembara, harus dibawa kembali agar keseimbangan tubuh terpulihkan. Namun mereka tidak tenggelam dalam kepercayaan terhadap roh-roh. Maka, orang Dayak Bahau mengembangkan sistem larangan makanan yang diterapkan pada setiap penyakit, di samping pembacaan mantra.
Mengenai pengobatan tradisional melalui ritual Belian, komunitas Dayak memiliki pengetahuan dan kearifan yang khas. Komunitas Dayak Benuaq misalnya, membuktikannya dalam upacara Belian dengan memanfaatkan ramuan obat dari tetumbuhan hutan. Dalam konteks ini, mereka mengenal obat-obatan tradisional untuk pelbagai penyakit yang dibuat dari akar atau pepohonan tertentu.
Lazimnya, tatacara pengobatan senantiasa disertai pantangan untuk setiap jenis penyakit. Hal itu mempertegas, betapa dahsyat pengetahuan mereka tentang pengobatran tradisional yang telah teruji secara turun temurun. Maka tak berlebihan, bila 107 tahun silam, Dr. Anton W. Nieuwenhuis melontarkan kekaguman, “Cara pengobatan itu merupakan prestasi yang luar biasa. Kita pun pantas mengagumi, karena sejumlah pantangan itu sesuai dengan kaidah pengetahuan kedokteran.”
Dalam konteks medis, orang Dayak berusaha menyembuhkan penyakit dengan melarang menyantap makanan terten¬tu, mandi, melakukan pekerjaan berat, dan sebagainya. Untuk penyakit yang berbeda-¬beda terdapat peraturan berbeda pula yang telah ditetapkan berdasarkan pengamatan dan pengalaman turun temurun.
Larangan bagi penderita diare: nasi keras, air gula tebu, pisang, nasi ketan, pisang rebus, minum air dingin, beberapa jenis ikan dan mandi pada waktu air dingin; yang diperbolehkan ialah makan nasi lembut dan ikan yang balk. Sedangkan larangan bagi penderita demam: air dingin, air gula tebu, gula, kue-kue, dan mandi pada waktu air tinggi.
Larangan bagi penderita batuk: makan keladi, gula, air gula tebu, nasi ketan yang dibakar dan beberapa jenis ketimun, merokok, menyirih, kerja keras. Sedangkan larangan bagi penderita radang lutut: berjalan, turun dari tangga, nasi yang kering dan keras, ikan bertulang, daging babi, telur, garam, dan daun pohon yang dapat dimakan. Juga terhadap penyakit kulit, sistem larangan diterapkan. Selama masa peng¬obatan, pasien tidak boleh mandi, tidak boleh berkeringat dan tidak menggaruk. Selain itu juga dilarang makan manis-manisan, bambu muda, keladi, pucuk paku, garam, daging babi, cabai, dan makanan dari tepung.
Sesungguhnya cara pengobatan itu merupakan prestasi yang luar biasa bagi orang Dayak. Terlebih karena sebagian besar larangan atau pantang sesuai dengan pengetahuan medis. Cara pengobatan orang Dayak Kayan terhadap penyakit kulit amat mujarab. Dua di antaranya adalah orokup, daun cassia alata dan nyerob bulan sejenis minyak hitam berbau ter, yang mengalir keluar dari kayu hitam sebuah pohon. Setiap hari orang Kayan menggosok tubuhnya dengan orokup, dan mereka berhasil menghilangkan kurap.
Cara pengobatan orang Dayak Kayan lainnya adalah pengambilan darah, mencacah, dan pengurutan, terutama pada bagian tubuh yang nyeri dan bengkak. Pengambilan darah dilakukan dengan membuat banyak sayatan pendek dengan pisau kecil yang tajam. Pembuatan rajah pada bagian kulit sama fungsinya dengan pengambilan darah. Pada waktu sakit perut atau sakit punggung, pasien biasanya diurut, yang lebih mirip meremas daripada menggosok.
Namun seiring dengan kemajuan zaman, pengetahuan pengobatan tradisional pada suku Dayak justru kian punah. Selain tiadanya pewarisan kepada generasi penerus, kerusakan sumber daya alam akibat eksploitasi hutan juga menjadi penyebab hilangnya ramuan obat tradisional yang tumbuh di belantara.
Namun yang lebih tragis, posisi strategis Pemeliatn terutama berkaitan dengan pengobatan tradisional, kini telah diambil alih oleh para petugas kesehatan (paramedis) melalui praktik pengobatan modern. Puskesmas dan jajarannya berperan signifikan menghancurkan pengetahuan dan kearifan orang Dayak dalam hal pengobatan.
Pertarungan antara “magis yang mewakili peradaban purba dan medis yang mewakili peradaban modern” telah dimenangkan oleh kubu peradaban modern. Dan Belian tampil sebagai tumbal peradaban. (*)
Oleh: Roedy Haryo Widjono AMZ
Kenangan untuk almarhum Kakek di Lou Benung

Suku Bangsa Dayak





Dayak atau Daya (ejaan lama: Dajak atau Dyak) adalah kumpulan/federasi dari berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai pendatang awal yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan). Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Suku bangsa Dayak terdiri atas enam Stanmenras atau rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan.


Etimologi
Istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu. Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa diantaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu [sungai] atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya.
Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya, sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu). Jadi semula istilah Daya ditujukan untuk rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban). Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil. Sejak itu istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya[17], khususnya non-Muslim atau non-Melayu. Pada akhir abad ke-19 istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.
Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya', Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.


Asal usul suku bangsa Dayak
Secara umum seluruh penduduk di kepulauan Nusantara disebut-sebut berasal dari Cina selatan, demikian juga halnya dengan Suku Dayak. Tentang asal mula bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa Cina dari Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Penduduk Yunan berimigrasi besar-besaran (dalam kelompok-kelompok kecil) diperkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan, Taiwan dan Filipina.
Tentang asal mula suku bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa China dari Provinsi Yunan di Cina Selatan. Penduduk Yunan ber-imigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM (SM). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan,Taiwan dan filipina.

Pada migrasi gelombang pertama yang oleh beberapa ahli disebut proto-melayu, datanglah kelompok negroid dan weddid. Sedangkan gelombang kedua, dalam jumlah yang lebih besar di sebut Deutero-Melayu. Para migran Deutero-Melayu kemudia menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku Melayu. Proto-melayu dan Deutero-melayu sebenarnya berasal dari negeri yang sama.

Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.

Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-197 8)

Cerita selanjutnya suku Dayak adalah tentang bagaimana mereka menghadapi gelombang-gelombang kelompok lain yang datang ke Kalimantan. Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman.

Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan,1977-1978)

Bahkan sumber lain menyebutkan sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)


SUKU DAYAK BERASAL DARI KHAYANGAN

Ada banyak versi asal usul suku bangsa Dayak. Berikut sebagai bahan referensi berdasarkan cerita lisan yang berkembang di tengah masyarakat Dayak.


Versi Ibanic Grop
Di masa lalu masyarakat yang kini disebut Dayak Mualang ini hidup dan bergabung dengan kelompok serumpun Iban lainnya dan masa itu mereka tergabung sebagai masyarakat Pangau Banyau ( kumpulan orang-orang khayangan dan manusia )kemudian kesemuanya itu disebut Urang Negeri Panggau/Orang Menua artinya orang yang berasal dari tanah ini (Borneo).


Tampun Juah
'Tampun Juah' merupakan tempat pertemuan dan gabungan bangsa Dayak yang dimasa lalu yang kini disebut Ibanic group. Sebelum di Tampun Juah masyarakat Pangau Banyau hidup di daerah bukit kujau’ dan bukit Ayau, kira-kira di daerah Kapuas Hulu, kemudian pindah ke Air berurung, Balai Bidai, Tinting Lalang kuning dan Tampun Juah, dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain di mungkinkan ada yang berpisah dan membentuk suku atau kelompok lainnya. Daerah persinggahan akhir yakni di Tampun Juah. Di sana mereka hidup dan mencapai zaman Eksistensi / keemasan, dalam tiga puluh buah Rumah Panjai ( rumah panggung yang panjang ) dan tiga puluh buah pintu utama. Mereka hidup aman, damai dan harmonis.
Tampun Juah sendiri berasal dari dua buah kata yakni: Tampun dan Juah, terkait dengan suatu peristiwa yang bersejarah yang merupakan peringatan akhir terhadap suatu larangan yang tak boleh terulang selama-lamanya. Tampun sendiri adalah suatu kegiatan pelaksanaan Eksekusi terhadap dua orang pelanggar berat yang tidak dapat ditolelir, yakni dengan cara memasung terlentang dan satunya ditelungkupkan pada pasangan yang terlentang tersebut, kemudian dari punggung yang terlungkup di tumbuk dengan bambu runcing, kemudian keduanya dihanyutkan di sungai.
Kesalahan tersebut dikarenakan keduanya terlibat dalam perkawian terlarang (mali) hubungan dengan sepupu sekali (mandal). Laki-laki bernama Juah dan perempuan bernama Lemay. Eksekusi dilakukan oleh seorang yang bernama lujun (algojo / tukang eksekusi) pada Ketemenggungan Guntur bedendam Lam Sepagi/Jempa.
kehidupan Tampun juah juga erat hubungannya dengan kehidupan ritual dan keagamaan. Pemimpin spiritual tersebut adalah sepasang suami istri yang bernama Ambun menurun ( laki-laki ) dan Pukat Mengawang ( perempuan).
Kedua orang tersebut merupakan symbol terciptanya manusia pertama ke dunia, sesuai dengan arti dari nama keduanya. Ambun menurun yaitu embun yang turun ke bumi, symbol seorang laki –laki dan pukat mengawan adalah celah – celah dari jala / pukat yang membentang, symbol wanita. Embun tersebut menerobos atau menembus celah pukat merupakan symbol hubungan intim antara pria dan wanita. Pasangan suami istri tersebut, mempunyai sepuluh orang anak yakni: Tujuh orang laki –laki dan tiga orang perempuan. Yaitu:
1. Puyang Gana ( Roh Bumi / Penguasa tanah, meninggal sewaktu lahir )
2. Puyang Belawan
3. Dara Genuk ( perempuan )
4. Bejid manai
5. Belang patung
6. Belang pinggang
7. Belang bau
8. Dara kanta” ( perempuan )
9. Putong Kempat ( perempuan )
10. Bui Nasi ( awal mula adanya nasi)
- Puyang Gana lahir tidak seperti kelahiran manusia normal, ia mempunyai kaki satu, tangan satu dan lahir dalam keadaan meninggal. Karena mempunyai tubuh yang tidak lazim atau jelek, ia diberi nama Gana, ia di kubur dibawah tangga. Ketika ada pembagian warisan ia datang dalam rupa yang menyeramkan (hantu) dan meminta bagiannya hingga karna suatu alasan maka ia mengklaim dirinya sebagai penguasa seluruh tanah dan hutan.( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.184 – 188 ). - Puyang Belawan lahir secara normal seperti manusia biasa. - Dara Genuk lahir kerdil atau mempunyai tangan dan kaki yang pendek, oleh sebab itu ia di sebut Dara genuk. - Bejid Manai lahir dan mempunyai sedikit kelainan pada bagian tubuhnya, yakni kemaluannya besar. Oleh sebab itulah ia disebut Bejid Manai. - Belang Patung lahir dan mempunyai kelainan pada setiap ruas tulangnya yang belang – belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Patung. - Belang Pinggang lahir dan mempunyai pinggang yang belang, oleh sebab itu ia disebut Belang Pinggang. - Belang Bau lahir dalam keadaan belang dan tubuhnya bau, oleh sebab itu ia disebut Belang Bau. - Dara Kanta” lahir normal tetapi mempunyai Cala ( tanda hitam ) dipipinya, oleh sebab itu ia disebut Dara Kanta”. - Putong Kempat lahir dalam keadaan normal dan ia mempunyai tubuh yang indah dan kecantikannya luar biasa tak terbayangkan, Upa Deatuh / upa dadjangka” oleh sebab itu ia disebut Putong Kempat. - Bui Nasi lahir dalam keadaan aneh, karena lansung dapat bicara dan merengek minta nasi dan kelahiran inilah awal mula orang Pangau Banyau makan Nasi.2. ( Baca, tentang kerajaan Sintang pada buku Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat hal.185). Menyebabkan ayah dan Ibunya memohon kepada Petara untuk mengubahnya menjadi bibit padi.
Orang Buah Kana
Di masa itu kehidupan manusia dan para Dewa serta mahluk halus, sama seperti hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, termasuklah hubungan yang sangat akrab dan harmonis antara masyarakat Tampun Juah dengan Orang Buah Kana ( Dewa pujaan ).


versi Kharinga : Dayak Kalteng
Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).
Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Dan Raja Bunu memang diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri–ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. Ciri–ciri yang lain adalah Raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk–pauk, dan lain-lain seperti makanan kita sekarang ini.
Raja Bunu dianugrahi oleh Ranying Hatalla Langit sebuah besi bernama Sanaman Lenteng. Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain di sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing–masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini aneh, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo dianalogikan, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam.
Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara-gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.
Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.
Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba–tiba Raja Sangen menghunus dohong-nya lalu menghujamkannya ke arah burung itu. Sehingga darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah menjadi emas, berlian, dan permata.
Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya kualat dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan mereka, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.
Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dan harta itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohong-nya ke arah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dan lain-lain. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga burung itu pun sehat kembali.
Dan lagi–lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi–lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah itu. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.
Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).


Versi :kanayant
Sejarah dapat dilihat berawal dari kisah cerita Ne' Baruakng Kulup ( salah satu versi cerita) yang menurunkan padi dari atas langit, ke bumi. Ne' Baruakng adalah anak Ne' Ja'ek, yang berjasa memperoleh tangkai padi untuk pertama kalinya dari seekor burung pipit, yang membawangnya diantara dua buah batu badangkop ( batu kembar) dan sekarang dapat ditemui dibukit Talaga.
Alkisah, mereka tinggal diatas (langit) . Ne' Baruakng ini yang sering turun ke bumi berkomunikasi dengan mahluk di bumi, suatu hari melihat mereka (penduduk bumi) makan kulat karakng (cendawan), yang sangat asing baginya. Secara kebetulan pula Ne' Baruakng waktu di bumi membawa butir butir putih ( yang kemudian dikenal dengan nasi).
Keadaan ini terlihat oleh mahluk di bumi. Mereka meminta dan memakannya. Terasa enak. Singkat kata, sejak saat itulah Ne' Baruakng lalu memperkenalkan padi di Bumi.
Sejak itu pula mahluk dibawah (bumi) mulai makan nasi dan meninggalkan cendawan kerang.
Kepercayaan masyarakat Talaga bahwa asal Dayak, khususnya Kanayatn( mereka sebut pula dengan Dayak Bukit) adalah atas, tempat yang serba menyenangkan dan dikenal dengan sebutan Bawakng. Karenanya, dalam setiap bentuk upacara adat para tokoh Dayak ini tidak melupakan sebuatan Bawakng ini, yang menyatakan sumber atau asal usul Dayak Kanayatn. Nampaknya tempat inilah dulunya yang merupakan asal usul keluarga Ne' Baruakng, yang sudah menjadi Talino. Melihat bukti sejarah, seperti batu badangkop di bukit Telagadapat diketahui bahwa Talaga adalah bagian dari tempat diatas (langit) atau Bawakng.
Dayak Kanayatn yang bermukim di Binua Talaga yang terdapat di kecamatan Sengah Temila kini menyebar kebeberapa Kampung ( Sahamp, Palo'atn, Aur Sampuk, Sinakin. Gombang)


Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman
Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.
Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.
Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.


VERSI DAYAK TAMAN KAPUAS
Asal Mula Manusia dan Alam Semesta dalam Pandangan Orang Taman
Orang Daya Taman sebagaimana juga orang Daya sebagai keseluruhan, tidak memilki tradisi tertulis dalam sejarah peradabannya. Mereka hanya memiliki tradisi lisan, dan tradisi lisan itupun sekarang hampir terlupakan karena orang Daya telah mengenal tulisan. Pengenalan akan tulisan ini lahir dari pengaruh masuknya misi agama Katolik dan pendidikan formal pemerintah. Dalam sejarahnya, tradisi lisan sangat vital bagi masyarakat Daya. Inilah satu-satunya cara untuk menyampaikan detil-detil tradisi atau aturan-aturan hidup kepada anak cucu secara turun temurun. Dalam cerita yang disampaikan secara turun temurun itu diketahui bahwa manusia dan alam semesta memiliki awal kejadian yang tak lepas dari adanya wujud tertinggi.
Asal mula alam semesta dan manusia dalam pandangan orang Daya Taman dapat diketahui dalam kisah penciptaan yang dituturkan tiga malam berturut-turut dalam acara bumbulan yang disebut cerita kalimongonan. Kalimongonan adalah acara penuturan kembali peristiwa kejadian asal mula alam semesta dan manusia. Menceritakan kembali persitiwa penciptaan merupakan bagian inti dari acara bumbulan. Upacara bumbulan merupakan upacara penting menjelang pesta Gawai raa. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Alaatala.
Alaatala menciptakan alam semesta yakni langit dan bumi beserta isinya dengan kuasa mujizat atau disebut dengan panyunyua. Panyunyua adalah cara Alaatala menggunakan kehendaknya untuk mengadakan segala sesuatu menjadi ada seketika tanpa bahan dan alat. Setelah Alaatala menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Alaatala memberi tugas kepada Piang Sampulo untuk membuat manusia sesuai dengan rupa Piang Sampulo sendiri. Piang Sampulo inilah yang kemudian mengajarkan cara hidup kepada manusia pertama yang ia ciptakan. Manusia pertama yang diciptakan oleh Piang Sampulo dan Bai’ Kunyanyik bernama Bai’ Idi’langilangsuan dan Piang Tina.
Menurut Y. C. Thambun Anyang, kepercayaan terhadap Alaatala sudah ada jauh sebelum kedatangan agama Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Protestan. Orang Taman percaya bahwa tujuan hidup manusia ialah Alaatala. Alaatala itu berupa roh kekal dan dianggap sebagai sumber keselamatan bagi manusia. Meskipun dianggap sebagai sumber keselamatan, orang Taman tidak memiliki upacara yang dipersembahkan secara istimewa kepada Alaatala, kecuali doa untuk meminta agar hidup selamat, terhindar dari segala penyakit dan marabahaya. Upacara untuk penghormatan dengan kurban atau sesajen diadakan untuk para arwah leluhur atau roh-roh nenek moyang. Upacara adat sebagai ungkapan religiositas asli selalu melibatkan leluhur. Upacara adat Gawai raa permohonan keselamatan bagi kehidupan manusia dialamatkan kepada Alaatala, melalui leluhur.
Orang Daya Taman meyakini adanya eksistensi roh. Roh dalam kepercayaan tradisional sangat berpengaruh kuat dalam kehidupan. Roh dalam bahasa Taman ialah Sumangat. Keberadaan Sumangat ini tidak hanya pada manusia tetapi juga ada pada makhluk-makhluk lain, seperti binatang dan juga pada benda-benda hidup maupun benda mati yang ada dalam alam semesta ini. Roh-roh yang ada pada setiap makhluk dan benda itu berasal dari Sang Pencipta atau Alaatala, sebab roh yang ada tersebut merupakan ciptaan Alaatala. Alaatala dengan kuasanya menciptakan langit dan bumi serta manusia bersama ciptaan lain untuk hidup dan tinggal di dalamnya.
Kepercayaan tertinggi orang Taman adalah kepercayaan kepada Alaatala. Mula-mula Alaatala dengan kuasaNya, menciptakan Sampulo, kemudian Sampulo diberi kuasa oleh Alaatala untuk menciptakan manusia. Maka, atas dasar kuasa Alaatala itu pula Sampulo diberi tugas untuk membuat manusia sesuai dengan citra Sampulo yang diciptakan oleh Alaatala sendiri. Manusia yang diciptakan Sampulo atas kuasa Alaatala itu memiliki roh yang berasal dari Alaatala sendiri. Roh yang ada pada manusia dimasukkan oleh Sampulo lewat kepala pada saat Sampulo menciptakan manusia pertama. Kepala merupakan tempat Sampulo meniupkan nafas kehidupan sehingga manusia dapat hidup, bergerak, berbicara dan berjalan. Maka ubun-ubun di kepala manusia merupakan pintu keluar masuknya roh itu.
Orang Taman meyakini keberadaan roh yang disebut Sumangat itu. Selain roh yang berasal dari Alaatala, diyakini pula keberadaan roh-roh lain sebagai lawan dari roh yang hidup dalam ciptaan Alaatala itu, yakni roh halus yang suka menangkap jiwa manusia. Dalam bahasa Taman roh halus itu disebut Sai. Dalam kepercayaan orang Taman, munculnya penyakit yang diderita oleh manusia merupakan perbuatan dari Sai yang suka menangkap jiwa manusia tersebut. Maka untuk menyembuhkan orang dari penyakitnya ialah dengan mengambil kembali roh (Sumangat) orang tersebut dari cengkraman roh halus (Sai). Untuk itu diadakanlah upacara penyembuhan pengambilan kembali Sumangat yang telah ditangkap oleh Sai itu. Upacara ini disebut dengan upacara bermanang atau Balian (bahasa Melayu) atau upacara arabalien (bahasa Taman). Upacara bermanang atau arabalien itu dikerjakan oleh Manang (Melayu), Balien (Taman). Manang atau Balien adalah orang yang memiliki kharisma tertentu dan bisa berkomunikasi dengan Sai, maka hanya merekalah yang dapat melakukan upacara penyembuhan.

(dari berbagai sumber)